Depok, asadiktisi.or.id – Ketua Umum Asosiasi Akademisi Pendidikan Tinggi Seluruh Indonesia (ASADIKTISI), Prof. Dr. Susanto, MA, menyampaikan peringatan keras terkait ancaman krisis ketangguhan mental (resiliensi) yang tengah melanda generasi muda Indonesia. Dalam orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Islam Universitas PTIQ Jakarta di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Rabu (8/4), Prof. Susanto menegaskan bahwa persoalan kesehatan mental remaja telah bertransformasi menjadi ancaman sistemik yang membahayakan fondasi masa depan bangsa, dan sektor pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk meresponsnya secara struktural.
Di hadapan sidang senat dan akademisi, tokoh yang juga menjabat sebagai Ketua Umum ASADIKTISI ini menggarisbawahi data global dan nasional yang memprihatinkan. Ia memaparkan catatan WHO bahwa 1 dari 7 remaja global mengalami masalah mental, serta data Kementerian Kesehatan 2024 yang menunjukkan sekitar 15,5 juta remaja Indonesia berada dalam kondisi serupa.
“Ini bukan lagi domain Bimbingan Konseling semata, melainkan krisis peradaban akibat disrupsi. Dunia pendidikan tinggi tidak bisa berdiri di menara gading. Kita sedang menghadapi paradoks: kemajuan teknologi justru melahirkan kerapuhan mentalitas secara massal,” tegas Prof. Susanto.
Membedah Fenomena "Strawberry Mentality": Kritik atas Labelisasi Generasi
Dalam pidato bertajuk “Disrupsi Peradaban dan Krisis Resiliensi: Rekonstruksi Paradigma Pembelajaran Pendidikan Islam untuk Membangun Ketangguhan Mental Generasi”, Prof. Susanto mengkritik penggunaan istilah "Strawberry Generation" yang populer di media. Menurutnya, istilah tersebut tidak akurat secara pedagogis dan terlalu menyederhanakan kompleksitas persoalan.
Sebagai Ketua Umum ASADIKTISI, ia menawarkan konsep "Strawberry Mentality" . Konsep ini merujuk pada kondisi mentalitas individu yang rapuh, low frustration tolerance, dan cenderung avoidance terhadap tantangan, yang tidak terbatas pada kelompok usia tertentu.
“Jangan salah, mahasiswa dengan Indeks Prestasi Kumulatif sempurna sekalipun bisa memiliki mentalitas ini. Ini persoalan konstruksi psikologis dan spiritual, bukan persoalan tahun lahir. Inilah yang harus menjadi perhatian serius para pendidik di perguruan tinggi,” ujarnya.
Rekomendasi ASADIKTISI: Menuju Kurikulum Berbasis Resiliensi
Prof. Susanto memperingatkan bahwa jika krisis resiliensi ini tidak segera diintervensi, bangsa Indonesia akan menghadapi penurunan daya saing sumber daya manusia, peningkatan angka burnout di kalangan profesional muda, serta krisis kepemimpinan di masa depan. Oleh karena itu, ia mendorong dilakukannya transformasi paradigma pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian kognitif, tetapi juga ketangguhan mental.
Sebagai langkah konkret bagi anggota ASADIKTISI dan institusi pendidikan tinggi lainnya, Prof. Susanto mengusulkan beberapa pendekatan strategis:
Integrasi Nilai Spiritual dalam Kurikulum: Memperkuat internalisasi nilai syukur, sabar, tawakal, dan ikhlas sebagai fondasi ketahanan psikologis.
Penerapan Metode Productive Failure: Menjadikan kegagalan sebagai bagian dari desain pembelajaran untuk membangun daya juang mahasiswa.
Evaluasi Berbasis Proses (Process-Oriented Assessment): Menggeser fokus evaluasi dari sekadar nilai akhir menuju apresiasi terhadap usaha, strategi pemecahan masalah, dan perkembangan karakter.
Menutup orasinya, Prof. Susanto menegaskan kembali komitmen ASADIKTISI dalam mendorong kebijakan pendidikan yang humanis dan transformatif.
“Pendidikan adalah proyek besar peradaban. Tugas kita di perguruan tinggi bukan hanya mencetak sarjana yang pintar secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental dan spiritual. Jika kita gagal menumbuhkan resiliensi, kita sedang mewariskan kerapuhan struktural kepada bangsa ini,” pungkasnya.
